Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap
Kamis, 30 Januari 2014
Sajak Putih
Published :
17.18
Author :
Ivang Suangi Asisiyah
Bersandar pada tari warna pelangi
kau depanku bertudung sutra senja
di hitam matamu kembang mawar dan melati
harum rambutmu mengalun bergelut senda
Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
meriak muka air kolam jiwa
dan dalam dadaku memerdu lagu
menarik menari seluruh aku
hidup dari hidupku, pintu terbuka
selama matamu bagiku menengadah
selama kau darah mengalir dari luka
antara kita Mati datang tidak membelah...
untuk kekasihku, kubentuk dunia sendiri,
dan kuberi jiwa segala yang dikira orang mati di alam ini!
kau depanku bertudung sutra senja
di hitam matamu kembang mawar dan melati
harum rambutmu mengalun bergelut senda
Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
meriak muka air kolam jiwa
dan dalam dadaku memerdu lagu
menarik menari seluruh aku
hidup dari hidupku, pintu terbuka
selama matamu bagiku menengadah
selama kau darah mengalir dari luka
antara kita Mati datang tidak membelah...
untuk kekasihku, kubentuk dunia sendiri,
dan kuberi jiwa segala yang dikira orang mati di alam ini!
Senin, 27 Januari 2014
MAMA
Oleh Risma Dwi
Ufuk masih saja gelap
Seakan hal serupa dalam hati
Menjerit labuh di dalam jiwaku
Dengan angin yang bergulung-gulung
Di singgah sana subuh
Keningku melukis
Pedih di dalam hati
Keheranan mengulur
Bak orang-orang yang menahan bakul
Di punggung dan lamban
Mereka berkeringat dan kepanasan
Ya, aku sama halnya
Menjadi gadis yang sarat akan masalah
Masalah yang tak kunjung tuntas
Pening merajut luka
Otak bebal langkah padam
Melihat orang-orang itu
Datang serta menepuk bahuku
“Kamu anak kucing ya?!”
Patah sudah segalanya
Memang engkau tak mengurusku
Harus apa?
Bagaimana?
Tangisku meledak?
Tidak, bahwasanya
Restleting yang terbuka
Sekarang ku tutup dengan kancing hitam
Agar engkau tahu hatiku telah padam
Terguyur tangis yang menggebu
JIWA AYAH
Oleh Risma Dwi
Dera deru mobil di setiap pagi mengingatkanku
Jiwaku melayang dan melambung
Ku menapaki awan yang bergelombang
Ku lihat di atas yang semakin jauh
Keterawanganku menembus langit-langit kelabu
Dia..
Dia berdiri dan tersenyum
Tersenyum untuk melihatku tersenyum
Dengan sayatan hati yang sakit dan menyiksa
Dia masih tetap kekar dan berdiri
Ingin ku raih tangannya yang legam
Rasanya tapi seperti angin
Dia mengucap namun terasa di relung hati
Di hati mendengung keras suaranya
Bahwa dialah ayahku
Suara itu semakin menggempar
Namun dia semakin samar-samar berkabut
Lelaki itu bersembunyi di balik gelombang awan
Dan tiba-tiba mataku terbenam terbawa meteor-meteor magnet
Kubuka mataku perlahan dan mulai melangkah
Terlihat keranda hijau berurai air mata di sekelilingnya
Kubuka dan kulihat wajahnya
Indahnya melebihi wajah yang ada di mimpiku
Ku rangkul dan terisak menderu
Dan semua itu baru kusadari pagi ini
Sampai tiba dia akan kembali
Dan tidur selama-lamanya di bawah tanah
Dan aku akan hidup sendiri tanpa jiwa seorang ayahku yang mulya
Dera deru mobil di setiap pagi mengingatkanku
Jiwaku melayang dan melambung
Ku menapaki awan yang bergelombang
Ku lihat di atas yang semakin jauh
Keterawanganku menembus langit-langit kelabu
Dia..
Dia berdiri dan tersenyum
Tersenyum untuk melihatku tersenyum
Dengan sayatan hati yang sakit dan menyiksa
Dia masih tetap kekar dan berdiri
Ingin ku raih tangannya yang legam
Rasanya tapi seperti angin
Dia mengucap namun terasa di relung hati
Di hati mendengung keras suaranya
Bahwa dialah ayahku
Suara itu semakin menggempar
Namun dia semakin samar-samar berkabut
Lelaki itu bersembunyi di balik gelombang awan
Dan tiba-tiba mataku terbenam terbawa meteor-meteor magnet
Kubuka mataku perlahan dan mulai melangkah
Terlihat keranda hijau berurai air mata di sekelilingnya
Kubuka dan kulihat wajahnya
Indahnya melebihi wajah yang ada di mimpiku
Ku rangkul dan terisak menderu
Dan semua itu baru kusadari pagi ini
Sampai tiba dia akan kembali
Dan tidur selama-lamanya di bawah tanah
Dan aku akan hidup sendiri tanpa jiwa seorang ayahku yang mulya
Selasa, 21 Januari 2014
Untuk Orang Yang Ku Sayang
Cinta penuh kecemburuan
Cinta penuh kesalahfahaman
Cinta butuh pengertian dan perhatian
Cinta itu full of color
Warna-warni kehidupan di cinta
Hitam cinta itu kekal
Putih cinta itu suci
Hijau cinta itu alamiah
Biru cinta itu sedalam samudera
Tapi kasih aku tak ingin
Kelabu hadir di cinta kita
Merapuhkan kekuatan cintamu padaku
Tak pernah kuduga, karena cintaku kau jatuh
Aku tak ingin lagi, menyakitimu tuk kesekian kalinya
Maafkan segala kebodohanku, ku tak layak dapatkan cintamu
Bagimu cintaku forbidden untukmu
Bersamaku membuatmu tersiksa
Kini kusadari semua kesalahanku
Maafkan aku jika cinta ini hanya membuatmu terluka
Cinta penuh kesalahfahaman
Cinta butuh pengertian dan perhatian
Cinta itu full of color
Warna-warni kehidupan di cinta
Hitam cinta itu kekal
Putih cinta itu suci
Hijau cinta itu alamiah
Biru cinta itu sedalam samudera
Tapi kasih aku tak ingin
Kelabu hadir di cinta kita
Merapuhkan kekuatan cintamu padaku
Tak pernah kuduga, karena cintaku kau jatuh
Aku tak ingin lagi, menyakitimu tuk kesekian kalinya
Maafkan segala kebodohanku, ku tak layak dapatkan cintamu
Bagimu cintaku forbidden untukmu
Bersamaku membuatmu tersiksa
Kini kusadari semua kesalahanku
Maafkan aku jika cinta ini hanya membuatmu terluka
Ketika Cinta Dalam Kerapuhan
Maafkanlah kekasih
Cinta ini menyakitimu
Cinta ini membuatmu terjatuh
Kekecewaanmu atas hati yang menggoreskan luka
Tak berniat sembilu menyayat dalam keramahan cintamu
Cinta ini tak seindah dulu lagi
Kala ambisi cinta terlampaui
Mungkin cinta tak sesuci hati kita lagi
Kuterjatuh menahaperihnya rasa sakitmu olehku
Tak pantas lagi kau maafkan aku
Meski ku memohon
Meski kuberharap kepada beribu-ribu bintang disana
Meski kumerintih
Tak ada gunanya lagi kudisini
Kuberharap sang Tuhan mendengar doaku
Maafkanlah aku dihatinya
Entah sampai kapan
Dihatinya terukir namaku seorang pengkhianat cinta
Pengkhianat.. Pengkhianat..
Akulah orang yang dibencinya
Pengkhianat cinta Itulah tahta yang pantas untukku
Untuk diriku seorang
Aku bukan Dewa cinta
Aku dewa yang terpinggirkan
Takkan ada cinta, cita dan kebahagiaan
Aku hanya laki-laki pemimpi
Semua takan pernah aku dapatkan
Kasih..
Kutuangkan curahan perasaan ini
Dalam lembaran hatimu
Agar kau tahu dan mengerti
Sebait kata yang ingin kuucap
Please for give me and I'm so sorry to you..
Langganan:
Postingan (Atom)
About Me
My name is Dimas Wahyu Pratama. My nick name is Dimas. I Live in Cirebon. My Facebook is Dimash Wahyu S Pratamaj. My twitter is @Dimas_first. My email is dimaswahyupratama154@gmail.com.
There is only one name in my heart that Ivang Suangi Asisiyah, my future wife, the mother of my children, and the congregation in my prayer.